Sebuah Kapal Akan Segera Berlayar

Standard

“..it won’t be easy, but something are worth fighting for..”
(Charles Ferguson)

Alkisah terdapat 3 pelaut yang pernah berlayar bersama. Dua kali mereka berada pada kapal yang sama, berlayar mengarungi 2 samudera yang berbeda. Dalam perjalanan mereka, tidak jarang kapal mereka singgah di daratan terpencil atau menurunkan layar di lautan yang tenang, sekedar untuk terombang ambing di tengah lautan. Kapal ini adalah kapal yang besar, legendaris, namun dalam beberapa pelayaran terakhir, kapal ini dipandang sebelah mata. Banyak sekali masalahnya, mulai perseteruan antar awak kapal, lumbung yang bocor di hantam karam, sampai pernah suatu ketika dihantam sebuah meriam oleh kapal lain.

Kapal tua ini baru saja menyelesaikan destinasi terbarunya, kemudian ditinggal oleh para penumpangnya ke berbagai tempat. Kapal ini sedang tertambat di sebuah pelabuhan besar, menunggu ada yang datang untuk melanjutkan pelayaran kembali. 3 pelaut tersebut datang di waktu yang bersamaan. Ketiganya sepakat bahwa kapal ini harus terus mengarungi lautan dan segera berekspedisi menuju laut lepas. Namun ketiga pelaut tersebut sama sama tahu betul, bahwa kapal ini rapuh, bermasalah, legendaris namun tidak lagi populer untuk dinaiki. Mereka tahu betul kapal ini siap karam kapanpun dan dimanapun. 2 pelayaran terakhir menjadi bukti bagaimana kapal ini bersusah payah untuk tiba ditujuan dengan selamat.

Tapi pantang mundur setelah melangkah. Arah pelayaran berikutnya telah disepakati. Ekspedisi siap dilaksanakan. Format kapal yang baik telah dibuat. Berbagai strategi untuk berlayar telah disiapkan. Beberapa saat lagi, kapal tua ini akan berlayar mengarungi samudera yang lebih ganas. Ekspedisi besar ini, akan jadi ekspedisi terbesar dalam sejarah pelayaran kapal ini. Ekspedisi kali ini jauh berbeda dengan pelayaran sebelumnya. Ekspedisi ini, kelak akan tercatat sebagai salah satu ekspedisi terbesar dalam sejarah kapal ini.

Kini, ketiga pelaut sedang mencari orang terbaik untuk ikut serta dalam ekspedisi ini. Ekspedisi ini tidak main main. Semua pelaut tahu betul kapal ini merupakan kapal yang besar namun telah rapuh. Kapal ini kapal yang mudah dihajar ombak. Kapal ini tidak memiliki cukup kecepatan untuk menghindari hantaman meriam kapal lain. Kapal ini bisa saja karam sebelum ekspedisi selesai. Oleh karena itu, jarang ada ketertarikan untuk ikut serta dalam kapal ini. Orang orang cenderung untuk ikut ke dalam kapal besar nan megah, atau sekalian menjadi bajak laut yang melontarkan meriam di tengah pelayaran kapal lain.

Kapal yang tidak memiliki daya tarik ini membutuhkan awak kapal yang terbaik. Kapal ini butuh seseorang yang cermat menarik layar ketika badai. Kapal ini butuh seseorang yang siap memperbaiki lumbung yang retak ketika terbentur karang. Kapal ini butuh seseorang yang mampu menenangkan awak kapal lain yang putus asa karena badai datang tiada henti, atau ketika daratan tak jua terlihat. Kapal ini butuh orang orang yang siap mengambil resiko, meninggalkan pelayaran pelayaran nyamannya, untuk beralih ke dalam ekspedisi besar ini.

Tidak ada yang menjamin angin akan bersahabat. Tidak ada yang menjamin ombak tidak akan datang menerjang. Tidak ada yang dapat menjamin kapal ini tidak akan karam di tengah jalan. Yang dapat dijamin adalah, mereka yang memutuskan untuk menjadi bagian dari kapal ini akan dicatat oleh sejarah sebagai bagian dari pejuang pejuang yang mau memperbaiki kapal ini. Menjadi bagian dari sebuah pembuktian kekuatan kapal ini. Serta menjadi saksi atas dipatahkannya prediksi kegagalan dari kapal ini. Sehingga pada akhirnya, hanya akan ada dua pilihan yang hadir bagi mereka yang ingin berlayar di periode ini. Mencoba menjadi bagian dari ekspedisi panjang penuh resiko dan ketidakpastian nasib atau sekedar duduk manis melambai kepada mereka yang berlayar menerjang ganasnya samudera luas.

Sore pertama di tahun baru,
Andhika Putra Pratama
Mahasiswa Ilmu Ekonomi 2011
Anggota Independen BPM FE UI 2014.