Seni Menjawab Pertanyaan

Standard

Jika ada hal yang sangat decisive dalam kehidupan.
Pastilah itu menjawab pertanyaan.
Jika kalian ingin merasakan rasanya kepercayaan diri meningkat.
Coba rasakan bagaimana perasaan ketika anda menjawab pertanyaan dengan tepat.
jika ingin merasakan bagaimana rasanya bete, kesal dan malu.
Ingatlah ketika anda salah dalam menjawab pertanyaan.

Tidak semua pertanyaan butuh jawaban.
Oleh karenanya melakukan analisa akan sebuah pertanyaan menjadi sebuah seni.
Kadang diam adalah sebuah jawaban.
Tapi terkadang, diam menunjukkan betapa lemahnya kita menghadapi situasi.
Maka, menjawab pertanyaan adalah sebuah seni.
Seni untuk menghubungkan dua pikiran.
Seni untuk memastikan pesan tersampaikan secara sempurna.

You are what you talk.
Tidak hanya berarti baik atau buruk perkataan yang keluar dari mulut kita.
Tapi juga seberapa lepas kita berbicara.
Bagaimana menjadikan kombinasi antara analisa, ketenangan dan kepercayaan diri sebagai sumbu.
Dan raut wajah sebagai kulit dari sebuah jawaban.

Seni menjawab pertanyaan adalah seni terbaik.
Di dalamnya ada pertaruhan rasa dan harga.
Siapa yang mahir di dalamnya akan senantiasa tegak berdiri.
Siapa yang lupa akan tersandung.
Bagiku, setiap jawaban adalah cerminan pahala bagi mereka yang memahami arti kehidupan.

Advertisements

Fallacy of Composition

Standard

Beberapa dari kita mengetahui betul apa itu Fallacy of Composition, pernah dibahas dalam mata kuliah Pengantar Ekonomi di semester awal masuk kuliah di FE UI. Fallacy of Composition adalah sebuah kondisi dimana keputusan yang dianggap baik dalam skala mikro belum tentu baik jika dilihat dalam skala makro. Contoh yang paling sering dijelaskan adalah berhemat. Dalam skala mikro, mungkin berhemat dianggap baik bagi manusia. Namun dalam skala makro, penghematan yang dilakukan oleh seluruh household akan menyebabkan konsumsi agregat menurun. Dan sedemikian rupa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Gambar

Tahun 2014 adalah tahun politik. Fenomena Fallacy of Composition saya temukan dalam konteks Pemilihan Umum. Beberapa dari kita, enggan melakukan proses pencoblosan dengan berbagai alasan. Ada yang berpendapat mereka lebih produktif untuk melakukan kegiatan lain di luar pencoblosan, atau mungkin ada beberapa teman kita dari rantau yang enggan mengurus proses pindah TPS dikarenakan sulitnya birokrasi dan lain sebagainya. Ujung dari alasannya adalah bagaimana individu menilai marginal cost yang dikeluarkan untuk mengurus proses pencoblosan lebih besar dari marginal benefit yang dirasakan oleh individu pasca pemilu. Dalam kacamata saya, ini adalah bentuk dari Fallacy of Composition.

Mungkin sebagian dari kita merasa keputusan untuk tidak memilih adalah keputusan yang paling menguntungkan dalam skala mikro. Namun pada skala makro, akumulasi dari keputusan keputusan individu tersebut akan menyebabkan partisipasi politik masyarakat menurun. Menimbulkan kemungkinan terpilihnya orang yang tidak tepat untuk mengisi pucuk pimpinan bangsa ini dan secara signifikan mengancam representasi suara publik. Padahal, fenomena 5 menit ini adalah esensial sine qua non . Andai tidak dapat memilih yang terbaik, setidaknya dapat memperkecil kemungkinan kemenangan pihak yang tidak layak memimpin bangsa ini.

So, anak Fakultas Ekonomi harusnya sadar betul akan hal ini. Keputusan untuk berhemat adalah keputusan yang tidak begitu baik secara agregat begitupun keputusan untuk tidak memilih. Peristiwa ini adalah hajat besar 5 tahunan. Semoga individu individu rasional tidak hanya menghitung benefit sekedar tinta pasca pencoblosan, namun juga menghitung akumulasi keburukan yang timbul akibat memutuskan untuk tidak memilih.

Selamat berpesta demokrasi. Selamat memilih.