Beasiswa LPDP : Saatnya Memuji Pemerintah

Standard

Siapa yang tidak tahu bahwa Indonesia akan menghadapi bonus demografi dalam beberapa tahun mendatang? Segera googling berbagai tulisan anak FE UI maupun sumber lainnya. Semua sepakat bahwa ini adalah kesempatan besar dan turning point bagi bangsa ini untuk meninggalkan label negara berkembang menjadi negara maju. Berbagai mimpi ditulis untuk kelak dicapai, mayoritas bermuara pada mimpi yang sama. Menjadikan Indonesia negara maju di tahun 2045 atau pasca 100 tahun Indonesia merdeka.

Biasanya, struktur pemikiran beberapa masyarakat di negeri ini mudah ditebak. Melihat adanya kesempatan, bermimpi untuk mencapai hal tersebut, kemudian menyalahkan pemerintah ketika pencapaiannya tidak sesuai dengan harapan. Kini, sebelum semuanya menyalahkan pemerintah, coba tengok kebijakan terbaru pemerintah menghadapi bonus demografi via bidang pendidikan, khususnya beasiswa pendidikan. 

Baru beberapa hari yang lalu, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono membuka salah satu beasiswa terbaru, Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) yang ditujukan kepada pemuda pemudi Indonesia yang berhasil diterima untuk melanjutkan studi S2 dan S3 ke 50 universitas terbaik di dunia. Beasiswa ini menyusul beasiswa yang telah di-launch sebelumnya, beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memberikan beasiswa studi S2 dan S3 bagi mereka yang berhasil diterima di 100 perguruan tinggi terbaik di dunia. Well, kabar baik buat kita yang masih jadi mahasiswa, bukan?

Pemerintah serius mengakselerasi pendidikan dengan memberikan kepercayaan kepada mereka yang meraih beasiswa ini, untuk kelak membantu membangun bangsa baik melalui private sector, public sector maupun sebagai akademisi di bidang masing masing. Mereka inilah yang akan memangku tanggung jawab mimpi Indonesia 2045. Penerima beasiswa ini mengalami tahapan tahapan pelatihan di awal, penanaman karakter dan kepemimpinan sebelum selanjutnya melanjutkan studi mereka. Para penerima beasiswa ini adalah investasi pemerintah di area sumber daya manusia untuk kelak menstimulasi berbagai kebijakan baik pemerintah maupun private sector yang pro terhadap pembangunan Indonesia.

Robert Reich, mantan Secretary of Labor Amerika Serikat di era – Bill Clinton sempat berujar bahwa investasi terbesar adalah investasi sumber daya manusia. Ketimpangan ekonomi Amerikas Serikat sempat turun ketika pemerintahnya melakukan investasi besar besaran pada sumber daya manusia. Dan ketika kita mencoba menarik fakta bahwa ketimpangan di Indonesia di 2010 mencapai titik tertinggi sejak awal merdeka dengan gini coefficient sebesar 0.41, maka investasi sumber daya manusia ini adalah titik awal pembangunan Indonesia yang lebih berkualitas dan humanis. Beasiswa ini adalah tools pemerintah untuk menghadapi bonus demografi, ketimpangan ekonomi masyarakat dan berbagai permasalah negeri ini.

So, pemerintah telah melaksanakan perannya untuk menyediakan akses ke arah pembangunan yang lebih baik. Implementasinya tidak bisa dikelola oleh pemerintah sendiri. Apa gunanya pemerintah memberikan beasiswa namun tidak ada yang ingin menggunakan beasiswa tersebut? Kini saatnya kita yang ambil peran untuk ikut serta menyukseskan usaha pemerintah ini. Belajar, belajar dan belajar. Ambil beasiswanya, dan sama sama jadi agen ibu pertiwi dalam menuntaskan cita-cita bangsa ini menjadi bangsa yang lebih berdaulat adil dan makmur. 