Mengembalikan Makna Ramadhan

Standard

Waktu berjalan cepat. Kamu yang dulu masih menikmati indahnya dunia kampus, sekarang ada di ujung semester 6, dalam hitungan hari akan menjadi mahasiswa tingkat akhir.
Waktu berjalan cepat. Kamu yang dulu bergegas bangun sahur ketika dini hari, mungkin sudah lupa rasanya shalat subuh di awal waktu.
Waktu berjalan cepat. Saking cepatnya, membuat kita lupa bahwa hari hari baik kita di Ramadhan tahun lalu, berubah menjadi hari hari biasa yang dibawa arus kehidupan.
Jangan jangan, kita menjadi orang celaka yang hari ini jauh lebih buruk dari hari kemarin.

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Tuhanmu memberikan kamu kesempatan untuk kembali ke dalam sebuah bulan penuh berkah. Sebuah bulan yang di dalamnya berlimpah pahala. Sebuah bulan yang di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Tuhanmu menyadarkan kamu untuk membaca tulisan ini (untuk pembaca) atau bahkan menulis ini (untuk penulis) semata mata untuk jadi pribadi yang lebih baik.

Tidak ada yang lebih miris dibanding saling berburuk sangka kepada sesama Muslim di bulan Ramadhan.
Tidak ada yang lebih miris dibanding saling mempermasalahkan hal hal yang tidak substansial antar sesama Muslim di bulan Ramadhan.
Bukankah sesama Muslim adalah saudara?
Bukankah sakitnya seorang Muslim adalah sakit bagi Muslim yang lainnya?
dan bukankah nikmat seorang Muslim adalah nikmat bagi Muslim yang lainnya?

Semoga Ramadhan tidak lagi diawali dengan diskusi penting tidaknya menutup jendela rumah makan di bulan Ramadhan.
Semoga Ramadhan tidak lagi diawali dengan perdebatan benar salahnya penggrebekan FPI di warung remang-remang.
Semoga Ramadhan tidak lagi diawali dengan perdebatan mana yang benar dalam memutuskan hari dimulainya Ramadhan.
Dan semoga di Ramadhan tahun ini, keberpihakan kita pada salah satu pasangan calon presiden tidak menodai persaudaraan kita sesama Muslim. 
Karena sesungguhnya bulan yang penuh berkah ini terlalu suci untuk dimulai dengan memperlihatkan kebencian kepada sesama Muslim.

Marhaban yaa Ramadhan.
Allah menciptakan posisi telinga yang dekat dengan posisi mulut semata mata agar apa yang disampaikan oleh seseorang, lebih dahulu didengar dan dipertanggung jawabkan oleh orang itu sendiri.
Mohon maaf lahir dan batin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s