Pengantar Memilih

Standard

Selamat pagi.
Selamat membuka mata di tanggal 9 Juli 2014.
Hari sakral dimana suara kita yang kita sampaikan di dalam bilik suara akan dikumpulkan bersama suara suara warga lainnya untuk diambil sebuah kesimpulan, siapa yang akan diamanahkan untuk memimpin negeri ini.

Rasanya waktu kampanye pilpres tahun ini terasa lebih panjang. Bukan karena  waktu yang dihabiskannya, namun karena suguhan kampanye di dalamnya yang telah mengambil ruang ruang publik kita. Keberpihakan media, kicauan jejaring sosial hingga broadcast message, semua bermuara pada satu rangkaian kalimat yang sama. Pilihlah calon A, karena calon B “insert negative statement here”.

Teman teman,
terima kasih atas usaha persuasifnya berkicau di berbagai media social untuk endorsing kedua calon agar saya (dan undecided voters lain) memilih mereka. Saya pastikan kini saya telah menentukan pilihan, walau bukan karena anda. Tapi saya yakin, pemilu tahun ini adalah arena pendidikan politik terbesar, dan banggalah jika anda berada di dalam bagiannya. J

Teman teman,
Saya dan ibu saya sepakat, tidak ada dari kedua calon yang sebenarnya ingin kami pilih. Bukan dia yang meninggalkan catatan buruk di masa lalu, bukan juga dia yang terlalu cepat memindahkan amanahnya. Tapi saya sadar betul, sebagaimana cinta, hidup memang tidak sesempurna yang kita inginkan. Pada akhirnya kita tidak pernah dihadapkan pada pilihan yang sempurna dan yang tidak sempurna. Kita akan selalu dihadapkan pada ketidak sempurnaan, dan memilih mana yang paling memberikan manfaat bagi diri kita. Maka bagi yang berencana ingin golput, sederhanakanlah pikiran kalian, ini bukan memilih siapa yang pantas, namun siapa yang lebih baik untuk tidak diberikan amanah dalam memimpin negeri ini.

Dengan paradigma tersebut memilih akan terasa lebih mudah. Lihat figurnya, buka visi-misi yang bertebaran dengan berbagai infografis di dalamnya, berbagai figur di belakangnya, atau sekedar duduklah sebentar dan ingat bagaimana mereka berbicara. Sekali lagi ditegaskan bahwa memang diantara keduanya tidak ada yang sempurna. Dalam berbicara saja, tidak ada yang selantang bung Karno, tidak juga minimal menggunakan diksi sebaik SBY. Cukup pilihlah yang anda lebih rela untuk diberikan tampuk kekuasaan negeri ini.

Teman teman,
Selamat memilih dan mengevaluasi negeri ini.
Sempatkan berdoa sejenak agar Allah SWT memberikan takdir terbaik bagi bangsa ini.
Dan ingatlah bahwasanya, amanah tidak akan memilih orang yang salah.

Advertisements

Perfection

Standard

Mengutip sebuah kutipan dari Anies Baswedan,
“Kita punya banyak insan yang memiliki global competence. Kita punya banyak insan yang memiliki grassroot understanding. Tapi kita sedikit punya insan yang memiliki keduanya.”

Maka dalam suasana Ramadhan, hal ini sama seperti,
“Kita mempunyai banyak insan yang paham betul urusan dunia, kita juga mempunya banyak insan yang mengerti benar masalah akhirat. Yang kita kurang adalah mereka yang memiliki keduanya”