Menakar Ketimpangan Lewat Berkurban

Standard

Terkadang ketika kita berbicara mengenai kemiskinan, kita sering lupa mendefinisikan kemiskinan itu sendiri. Kita terlalu asyik menceritakan keadaannya, menyalahkan pemerintah atas kegagalan menanggulanginya atau bahkan mengutuk pihak tertentu sebagai biang keladi dari kemiskinan itu sendiri. Kita lupa mendefinisikan kemiskinan. Bahkan sebagian dari kita tidak bisa mendefinisikan kemiskinan.

Mereka yang telah mengambil mata kuliah ekonomi kemiskinan tahu persis apa itu miskin. Miskin adalah sebuah kondisi yang berada di bawah garis kemiskinan. Maka, definisi orang miskin adalah mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Pertanyaannya, garis kemiskinan mana yang kita anut? Badan Pusat Statistik punya garis kemiskinan tersendiri, World Bank juga punya garisnya sendiri, bahkan jika teman teman ingat di kelas Sistem Ekonomi Pak Sri Edhi Swasono, beliau pernah berujar bahwa bung hatta punya parameter kemiskinan sendiri, bahkan kita pun bisa membuat garis kemiskinan sendiri (diajarin kan pas tugas ekmis? ;))

Badan Pusat Statistik punya garis kemiskinan di bawah 300.000 per bulan (Maret 2013), garis tersebut yang menjelaskan mengapa kemiskinan kita berada angka belasan persen. World bank punya alasan tersendiri mengapa menyediakan garis kemiskinan $1.25/day dan $2/day sebagai garis kemiskinan yang kemudian menjelaskan mengapa angka kemiskinan Indonesia ternyata sangat tinggi (Sila liat sendiri, tujuan tulisan ini bukan meratapi kemiskinannya). Setiap orang pun berhak mengkategorikan diri mereka miskin atau tidak. Ada yang miskin namun merasa tidak miskin, ada pula yang sebenarnya tidak masuk kategori miskin, namun merasa dirinya masih miskin.

Lalu apa hubungannya dengan kurban?

Mereka yang melakukan klaim atas daging kurban (mustahik, dengan catatan non pengkurban/pengurus pemotongan kurban/amil) dapat menjadi parameter sedalam apa kemiskinan di Indonesia. Lihat tren-nya dari tahun ke tahun maka teman teman juga bisa seraya memperhatikan ketimpangan. Sesederhana itu.

Coba tengok masjid masjid di sekitar rumah/kosan kita. Berapa mustahik yang mendapat daging kurban (fakir dan miskin)? Bertambahkan dari tahun ke tahun? Kemudian berdiam dirilah di masjid sejenak setelah pemberian daging kurban, apakah masih ada satu dua orang yang datang untuk memohon daging kurban? Mereka yang berada dalam kategori sejahtera tidak akan datang ke masjid untuk meminta hak-nya sebagai mustahik (fakir miskin). Mereka yang merasa dirinya miskin tidak ragu akan datang meminta hak-nya. Hak yang mereka dapatkan sesuai dengan janji Allah SWT.

Lebih dalam lagi lihatlah pertumbuhan penjualan kambing atau tengoklah jumlah orang yang mulai berkurban. Peningkatan pertumbuhan pengkurban yang diiringi dengan pertumbuhan jumlah mustahik mengindikasikan ada yang tidak beres dalam pengelolaan kemiskinan negeri ini. Hal tersebut memperlihatkan bahwa yang makin sejahtera makin banyak, yang miskin juga makin banyak. Secara kasat mata kita melihat ketimpangan di depan mata kita sendiri.

Yuk sedikit merenung dan lihatlah sekitar kita. Benarkah hidup kita lebih sejahtera? Benarkah ketimpangan kesejahteraan kita makin besar? Atau jangan jangan kita mengalami kemunduran secara finansial dan ruhaniyah karena mereka yang berkurban semakin sedikit dibanding yang memohon untuk menerima daging kurban?
Wallahu alam bissawwab.

Eid Mubarak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s