Belajar Memahami (dari) SBY

Standard

Kita sedang memasuki hari hari dimana foto presiden yang tidak berganti selama 10 tahun terakhir akan diturunkan dan diganti foto mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memimpin bangsa ini selama 10 tahun dengan suka duka, pro kontra dan berbagai kebijakan baik yang disyukuri maupun dianggap kontroversial. Love it or not, it’s time to move on and face the new order. Era Joko Widodo.

Refleksi memang biasa dilakukan di akhir sebuah perjalanan. Refleksi sering diakhiri dengan dua hasil yang saling berlawanan, rasa syukur dan penyesalan. Namun mereka yang melakukan refleksi di akhir perjalanan, tanpa disadari seharusnya memiliki sebuah tujuan lain di samping sekedar untuk melihat positif dan negatif dari sebuah perjalanan. Tujuan tersebut tak lain adalah usaha untuk memahami. Upaya untuk mengerti setiap dinamika dalam perjalanan, dan rasionalisasi atas keputusan yang telah dibuat. Keputusan yang seringkali tidak menyenangkan bagi semua orang. You can’t please everyone, but you should.

Setiap pemimpin memiliki karakteristik masing masing. Semuanya dapat didebat satu sama lain. SBY punya slogan “Million friends, zero enemies” . Now, let’s take a poll. Banyak yang setuju, banyak pula yang tidak. Mereka yang tidak setuju adalah yang berpendapat bahwa we can’t please everyone. Sebaliknya, mereka yang setuju berpendapat bahwa we should please everyone. As simple as that. Kita berada pada hakikat bahwa tidak bisa membuat semua orang lain senang, namun berkewajiban untuk baik dan berteman dengan semua orang. Kini tinggal dihadapkan pada dua posisi berdiri, mereka yang berdiri untuk menegakkan realita atau mereka yang berdiri untuk memperjuangkan kewajiban. Pencari kebenaran akan berdebat hingga akhir, namun mereka yang melakukan refleksi memilih untuk memahami situasi dan mengerti dinamika dibanding melakukan justifikasi.

Refleksi 10 tahun ke belakang menghadapkan kita pada hari baik dan hari buruk. Hari dimana Aceh dilanda musibah, dan hari dimana GAM dan Pemerintah Indonesia berdamai (rekonsiliasi). Hari di mana dinding dinding sekolah yang rusak, dan hari di mana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hadir. Hari hari di mana masyarakat mencaci harga sembako, sementara pemerintah memastikan mereka tidak kehilangan pekerjaan sebagaimana melanda masyarakat China dan Amerika Serikat. Tidak setiap saat LeBron James membawa tim-nya unggul, ada waktu dimana ia under-performed. Tidak selamanya Lionel Messi mencetak gol dan mengantar Barcelona ke kasta tertinggi, ada kalanya tendangannya terbentur mistar gawang bahkan ketika Petr Cech telah mati langkah. Satu yang pasti, LeBron James dan Lionel Messi akan menjadi legenda dan catatan sejarah tersendiri. Life is all about ups and downs.

Refleksi hadir untuk evaluasi. Penyesalan hadir untuk tidak mengulangi kesalahan serupa. Memahami presiden yang telah 10 tahun memimpin negeri ini adalah upaya untuk mendewasakan diri. Belajar memahami dinamika yang terjadi dalam 10 tahun terakhir. Belajar memahami SBY, belajar memahami dari SBY. Untuk Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s