Roma Non Si Discute Si Ama

Standard

“..Roma Non Si Discute Si Ama..”
“..Roma is not to be questioned, but to be loved..”

Kalimat tersebut melekat di dalam jersey AS Roma. Tepatnya di belakang leher para pemain, di antara dua pundak, seolah memberikan pesan pada setiap pemainnya untuk bermain dengan hati, dengan segenap cinta untuk tim kebanggan ibukota Italia.

Namun apa yang terjadi beberapa bulan terakhir, mau tidak mau menimbulkan berbagai pertanyaan bagi seluruh fans serigala ibukota. Patutkan mereka diam, mencintai tanpa mempertanyakan? Dalam 15 pertandingan terakhir di semua kompetisi, Roma hanya menang 3 kali. 1 di Serie A saat bertandang ke markas Cagliari, 1 di Coppa Italia, dimana secara kontroversial menang tipis 2-1 melawan Empoli via penalti di perpanjangan waktu, dan ketika menaklukkan Feyenoord di Europa League. 12 sisanya berakhir dengan 3 kekalahan (2 kali melawan Fiorentina dan Sampdoria) dan 9 hasil imbang. Hasil ini membuat tifosi geram, hingga punggawa asli Roma seperti Daniele De Rossi dan Alessandro Florenzi harus menenangkan tifosi di curva sud di akhir pertandingan melawan Fiorentina Jumat dini hari lalu.

Rasanya baru kemarin Rudi Garcia berhasil membangunkan raksasa yang telah lama tertidur. Rudi Garcia berhasil menyulap the old Roma yang sangat konsisten dengan inkonsistensinya, lama absen di kancah Eropa, menjadi tim yang disegani di Serie A 2013-2014. Roma mencatat rekor 10 kemenangan beruntun di awal musim dan mengakhiri musim dengan perolehan poin tertinggi sepanjang sejarah Roma. Hanya superioritas 102 poin Juventus yang membuat scudetto tidak singgah ke ibukota. Musim ini pun dimulai Roma dengan sangat baik, Roma memulai musim dengan 5 kemenangan beruntun di Serie A sebelum kalah tipis 3-2 dari Juventus. Sekaligus menandai comeback di Liga Champion dengan membantai CSKA Moskow 5-1 di Olimpico. Sehingga, performa buruk beberapa bulan terakhir menjadi sebuah tanda tanya besar. Inikah tanda kembalinya the old Roma? Yang konsisten akan inkonsistensinya?

Seluruh elemen Roma butuh introspeksi. Kehilangan Benatia-Castan memang seperti kehilangan pondasi rumah. Namun bukanlah alasan yang cukup bagi Kostas Manolas dan Mapou Yanga Mbiwa untuk kemasukan 3 gol dari Fiorentina di kandang sendiri, bukan pula alasan yang cukup bagi Davide Astori untuk kemasukan 2 gol atas Sampdoria di Olimpico. Walter Sabatini harus mengakui (dan benar telah mengakui pasca pertandingan melawan Fiorentina jumat lalu) bahwa transfer window Januari kemarin adalah salah satu yang terburuk. Roma kehilangan top-skorer musim lalu, Mattia Destro, dan gagal mendapat pengganti yang sepadan. Tak luput pula introspeksi bagi Rudi Garcia mulai dari segi taktik, transisi permainan, komposisi starting line-up, hingga masalah rotasi pemain.

Kini Roma hanya berjarak 1 poin dari rival terdekat sekaligus musuh bebuyutan, Lazio, dan hanya berjarak 4 poin dari peringkat 6, Sampdoria. Di antaranya  terdapat Napoli dan Fiorentina yang siap mengkudeta posisi runner up. Tidak ada waktu lagi bagi Rudi Garcia untuk menggunakan dewi fortuna sebagai alasan, tidak ada waktu lagi bagi Miralem Pjanic untuk bermain di bawah performa, juga tidak perlu lagi bagi Seydou Keita untuk mendapat kartu merah karena bertepuk tangan atas keputusan wasit. Roma harus segera kembali ke jalur kemenangan, mempertahankan posisi dua untuk memastikan satu tiket ke Liga Champion. Kegagalan mempertahankan posisi dua tidak hanya berarti kehilangan kesempatan berlaga di pentas tertinggi eropa, namun secara finansial akan semakin menyulitkan keuangan Roma yang dikejar proyek ambisius pembangunan Stadio Della Roma untuk menggantikan Stadio Olimpico.

Antonello Venditti dalam lirik lagu “Roma Roma Roma”, menyelipkan kalimat “Roma Roma Roma, tu sei nata grande, e grande hai da resta” yang artinya “Roma Roma Roma, you were born great, and great you have to remain”. Sebuah kalimat yang lantang dinyanyikan setiap kali sebelum serigala ibukota bermain di markas besar Stadio Olimpico. Mengingatkan setiap elemen Roma untuk menghadirkan cinta dalam setiap permainannya, bahwa sesungguhnya Roma was born great. And great they have to remain.

Pada akhirnya, pertanyaan hadir sebagai pengingat. Mempertanyakan bukan berarti meragukan cinta. Mempertanyakan justru hadir karena cinta yang dalam. Romanisti akan terus hadir di setiap pertandingan Roma, berdendang “Grazie Roma” ketika menang, dan mempertanyakan performa buruk ketika kalah. Satu hal yang pasti mereka tidak akan pernah berhenti mencintai Roma, karena performa permainan memang layak dipertanyakan, namun kecintaan akan il giallorosso bukan untuk dipertanyakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s