Bersembunyi

Standard

Pada malam yang menghentikan geraknya
Lirih laramu berada di dasarnya
Cerita tentang pagi yang dirayu
Cerita tentang siang kau melaju

Pada tahun aku memulai kembali
Hangat senyummu adalah asa
Bukan menguat, menggenggam, meredam
Tapi berputar, merindu, laranya.

Pada petang saat aku merajut janji
Kau ucap pergi menjemput hati kecil
Merintih dalam kata
Berujar dalam tawa
Merindu pada rasa
Menabur garam pada luka
Diriku bukan dirinya.

Pada malam aku berjanji
Menutup hati, lalu pergi
Tapi rasa tak pernah sudi
Bersembunyi.

Terkadang Cinta Harus Berakhir

Standard

Memaki adalah kebodohan
Menggumam adalah kekerasan
Cemburu adalah kejahatan
Mencintaimu adalah bencana

Aku ingin hadir pada setiap peluh yg jatuh
Aku ingin datang pada setiap keluh yg penuh
Aku ingin ada pada setiap karang yg tajam
Mencintaimu tak bisa kukendalikan

Pada setiap tatapan mataku, kamu berpaling
Pada setiap hadirnya ragaku, kamu menepi
Pada hati dan waktu yg kusisihkan, kamu pergi
Aku sendiri di tengah ruang dan waktu.
Telah hilangkan segala sandaran musim itu.

Pada setiap akal yang berpikir
Pada setiap emosi yang khawatir
Dan setiap hati yang mencintai dengan fakir
Terkadang cinta harus berakhir.

Tanyamu Ada Jawabnya

Standard

Bukan laku yang menitip rindu
Bukan kata yang memaksa luka
Hanya pintu celah pikirmu
Tinggalkan asa, tak kau rasa

Aku berkata bahwa tanyamu ada jawabnya
Hidup hadir tak pernah mengantar luka
Dia tak pergi tanpa kembali
Tak juga singgah, lalu pergi

Kau bilang hidup penuh luka
Di dalamnya ada bara, tak ada suka
Tanyamu kau ubah menjadi puisi
Cerita tentang hidup, pedih tak terperi

Pujangga tak pernah salah pahami arti
Berbagai prosa dendam, ataupun puisi
Ia hidup dari kata yang pergi

Tanyamu ada jawabnya
Hidup tak pernah mengantar luka
Kau kemasi segala kata dalam puisi
Dipegang erat, lalu pergi

Kau kemasi kata-kata pujangga
Digenggam erat seolah sabda
Hidup tak pernah mengantar luka
Sebuah janji dari aku yang terlupa
Menjawab tanyamu, apa adanya.

Pernah Aku Memendam Cinta

Standard

Pernah aku melarang rindu
Dalam bising dan sendu
Yang lari karena tabu
Memohon pergi karena ragu

Pernah aku terjebak rasa
Menahan pelik, memendam luka
Sampai tiba suatu masa
Dirimu hadir digerai tawa
Bukan karena aku yang kuasa
Hanya hatimu disapa cinta

Pernah aku seorang diri
Dihibur gerimis, berteman sepi
Terjebak ingin mengadu diri
Tanpa sadar, hati tak kan berbalik

Ada masa yang kuingat indah
Kadang di suatu hari yg cerah
Kadang terlapis awan yang mencegah jengah
Saat itu engkau resah
Ah, atau mungkin aku salah

Pernah aku inginkan kita
Tanpa sadar tak direstui kata
Pernah aku memendam cinta.

Buckle Up! Ramadhan is underway.

Standard

Kita tidak akan pernah kehilangan orang yang memiliki global competence.
Kita juga tidak akan pernah kekurangan orang-orang yang punya grassroot understanding.
Tapi kita sulit untuk menemukan orang yang memiliki keduanya.
(Anies Baswedan)

Dua kalimat itu cukup untuk menjelaskan segala hal. Di kampus misalnya, mudah kita temui insan-insan cerdas bergelimang prestasi, mudah pula kita temukan mereka yang dilabel sebagai aktivis. Tapi untuk mendapatkan orang yang memiliki keduanya? Menghitung dengan satu jari pun masih bersisa.

So, what’s the point? Hidup kita sekarang semakin membuat kita geleng-geleng kepala. Sesat pikir dimana-mana. Baik tentang dunia maupun akhirat. Mereka yang paham betul tentang dunia, mengabaikan akhirat, tidak segan menyindir keberadaan Tuhan, atau sekedar meragukan logika ketuhanan yang tidak perlu diperdebatkan. Pun terkadang mudah sekali untuk anti-Islam, membenci mereka yang berteriak dengan embel-embel agama. Buat apa?. Di sisi lain, begitupun bagi mereka yang paham benar dengan akhirat, menggunakan niat baik untuk menyampaikan ajaran Allah, tapi abai dengan kenyataan bahwa manusia adalah insan yang berpikir. Tidak jarang menggunakan analogi (cocok-logi) yang membuat kita mengernyitkan dahi, atau tidak segan mengerdilkan pihak yang dianggap berlawanan dengan ajaran yang dipahami. Pun dengan para pemimpin yang mengidentikkan dirinya begitu dekat dengan agama, namun kemudian membuat keputusan dan kebijakan yang sering berlawanan dengan dasar-dasar beragama dalam Islam, yang bahkan mudah tuk dipahami pun hanya dengan akal sehat.

Apa yang terjadi di atas, lengkap untuk disatukan. Kita tidak pernah kekurangan orang-orang yang paham akan dunia, kita juga tidak akan pernah kekurangan orang-orang yang paham akhirat. Tapi untuk mencari orang yang paham keduanya? Wallahu alam bis sawwab.

Kembali ke bulan Ramadhan adalah bentuk rasa cinta Allah pada kamu, dan aku. Mungkin kita berkali-kali menyia-nyiakan Ramadhan, tapi Allah telah memutuskan untuk mempertemukan kita kembali pada bulan ini, untuk memperbaiki apa yang kita sesali di waktu-waktu sebelumnya. Ramadhan adalah momentum untuk berbenah, memulai kembali kebiasaan yang baik. Ramadhan adalah tempat kita belajar agar tidak hanya menjadi insan yang paham dunia, namun juga paham akhirat. Ramadhan membantu kita mendewasakan diri kita agar tidak terjerumus pada ucapan ucapan yang menuju pada keraguan akan Islam, seraya saling menasehati dalam kebenaran. Ramadhan adalah sarana pembersihan diri, membuka lembar baru dalam hubungan terhadap Allah dan hubungan sesama manusia.

Marhaban Yaa Ramadhan. Semoga diri kita terus berada pada jalan untuk menjadi orang yang tidak hanya memahami dunia, namun juga memahami akhirat. Buckle up! Enjoy the holy month!

Memahami Makna Penganugerahan

Standard

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata “award” ? AMI Awards? Dahsyat awards? MTV Movie awards? The Academy Awards aka The Oscars? Banyak kepikiran hal lain? Simpan dulu.

Secara harfiah, award berarti hadiah. Kepada siapa hadiah akan anda berikan? Kepada orang yang anda sayangi? Kepada orang yang anda kagumi? Atau jika anda adalah seorang kakak yang baik, anda biasanya akan mengiming-imingi hadiah bagi adik anda ketika ia mulai berpuasa penuh, atau, ketika ia menang lomba sepeda hias.

Kata award memiliki makna yang sangat luas, apalagi jika memahaminya dengan bahasa Indonesia seperti yang saya contohkan di atas. Namun saya rasa, tidak sulit bagi kita membedakan mana hadiah yang seharusnya diberikan atas sebuah kemenangan dalam kompetisi, dan mana hadiah yang seharusnya dianugerahkan kepada orang yang anda kagumi.

Untuk sebuah event berjenjang, hadiah layak untuk diperlombakan. Tujuannya adalah aktualisasi diri dalam medan yang kompetitif. Membawa nama pihak yang ia wakili dalam tahapan yang lebih kecil, untuk ia wakilkan kembali dalam tahapan yang lebih besar. Mungkin semacam Abang None Jakarta? Puteri Indonesia? Miss Universe? That’s a competition. Mereka yang merasa dirinya terbaik, memiliki kompetensi, dan memenuhi syarat dalam kompetisi, wajar untuk mendaftar. Dan tepat bagi penyelenggara, untuk memperlakukan event tersebut sebagai sebuah kompetisi dengan membuka pendaftaran.

Lain hal-nya dengan hadiah yang dianugerahkan. Tujuannya bukan kompetisi. Tapi memberikan apresiasi pada mereka yang menghenyakkan kita dengan pemikirannya, tingkah laku-nya, prestasinya, dengan segala perbuatan dalam hidupnya. Contoh, penghargaan Wirakarya Adhitama yang diperoleh Prof. Ali Wardhana, atau Lifetime Achievement Awards yang diperoleh Deddy Mizwar dalam Festival Film Bandung. Penghargaan tersebut diberikan untuk mengapresiasi, bukan sebagai hadiah untuk sebuah kompetisi. Salah jika Prof. Ali Wardhana atau Deddy Mizwar mendaftarkan diri untuk menerima penganugerahan tersebut. Salah jika penyelenggara Festival Film Bandung membuka registrasi pendaftaran untuk kategori Lifetime Achievement Awards. Dan lebih aneh lagi jika Deddy Mizwar berkompetisi untuk memenangi hadiah tersebut. Jika hal tersebut terjadi, hilang sudah makna dari penganugerahan.  Tak usah lagi gunakan kata ‘awards’.

Penganugerahan esensinya adalah bentuk apresiasi dan penghormatan yang diberikan kepada orang yang kita kagumi, yang menginspirasi kita, tanpa perlu disadari oleh orang tersebut. Apresiasi bukan untuk dilelang, apalagi diperlombakan.

Roma Non Si Discute Si Ama

Standard

“..Roma Non Si Discute Si Ama..”
“..Roma is not to be questioned, but to be loved..”

Kalimat tersebut melekat di dalam jersey AS Roma. Tepatnya di belakang leher para pemain, di antara dua pundak, seolah memberikan pesan pada setiap pemainnya untuk bermain dengan hati, dengan segenap cinta untuk tim kebanggan ibukota Italia.

Namun apa yang terjadi beberapa bulan terakhir, mau tidak mau menimbulkan berbagai pertanyaan bagi seluruh fans serigala ibukota. Patutkan mereka diam, mencintai tanpa mempertanyakan? Dalam 15 pertandingan terakhir di semua kompetisi, Roma hanya menang 3 kali. 1 di Serie A saat bertandang ke markas Cagliari, 1 di Coppa Italia, dimana secara kontroversial menang tipis 2-1 melawan Empoli via penalti di perpanjangan waktu, dan ketika menaklukkan Feyenoord di Europa League. 12 sisanya berakhir dengan 3 kekalahan (2 kali melawan Fiorentina dan Sampdoria) dan 9 hasil imbang. Hasil ini membuat tifosi geram, hingga punggawa asli Roma seperti Daniele De Rossi dan Alessandro Florenzi harus menenangkan tifosi di curva sud di akhir pertandingan melawan Fiorentina Jumat dini hari lalu.

Rasanya baru kemarin Rudi Garcia berhasil membangunkan raksasa yang telah lama tertidur. Rudi Garcia berhasil menyulap the old Roma yang sangat konsisten dengan inkonsistensinya, lama absen di kancah Eropa, menjadi tim yang disegani di Serie A 2013-2014. Roma mencatat rekor 10 kemenangan beruntun di awal musim dan mengakhiri musim dengan perolehan poin tertinggi sepanjang sejarah Roma. Hanya superioritas 102 poin Juventus yang membuat scudetto tidak singgah ke ibukota. Musim ini pun dimulai Roma dengan sangat baik, Roma memulai musim dengan 5 kemenangan beruntun di Serie A sebelum kalah tipis 3-2 dari Juventus. Sekaligus menandai comeback di Liga Champion dengan membantai CSKA Moskow 5-1 di Olimpico. Sehingga, performa buruk beberapa bulan terakhir menjadi sebuah tanda tanya besar. Inikah tanda kembalinya the old Roma? Yang konsisten akan inkonsistensinya?

Seluruh elemen Roma butuh introspeksi. Kehilangan Benatia-Castan memang seperti kehilangan pondasi rumah. Namun bukanlah alasan yang cukup bagi Kostas Manolas dan Mapou Yanga Mbiwa untuk kemasukan 3 gol dari Fiorentina di kandang sendiri, bukan pula alasan yang cukup bagi Davide Astori untuk kemasukan 2 gol atas Sampdoria di Olimpico. Walter Sabatini harus mengakui (dan benar telah mengakui pasca pertandingan melawan Fiorentina jumat lalu) bahwa transfer window Januari kemarin adalah salah satu yang terburuk. Roma kehilangan top-skorer musim lalu, Mattia Destro, dan gagal mendapat pengganti yang sepadan. Tak luput pula introspeksi bagi Rudi Garcia mulai dari segi taktik, transisi permainan, komposisi starting line-up, hingga masalah rotasi pemain.

Kini Roma hanya berjarak 1 poin dari rival terdekat sekaligus musuh bebuyutan, Lazio, dan hanya berjarak 4 poin dari peringkat 6, Sampdoria. Di antaranya  terdapat Napoli dan Fiorentina yang siap mengkudeta posisi runner up. Tidak ada waktu lagi bagi Rudi Garcia untuk menggunakan dewi fortuna sebagai alasan, tidak ada waktu lagi bagi Miralem Pjanic untuk bermain di bawah performa, juga tidak perlu lagi bagi Seydou Keita untuk mendapat kartu merah karena bertepuk tangan atas keputusan wasit. Roma harus segera kembali ke jalur kemenangan, mempertahankan posisi dua untuk memastikan satu tiket ke Liga Champion. Kegagalan mempertahankan posisi dua tidak hanya berarti kehilangan kesempatan berlaga di pentas tertinggi eropa, namun secara finansial akan semakin menyulitkan keuangan Roma yang dikejar proyek ambisius pembangunan Stadio Della Roma untuk menggantikan Stadio Olimpico.

Antonello Venditti dalam lirik lagu “Roma Roma Roma”, menyelipkan kalimat “Roma Roma Roma, tu sei nata grande, e grande hai da resta” yang artinya “Roma Roma Roma, you were born great, and great you have to remain”. Sebuah kalimat yang lantang dinyanyikan setiap kali sebelum serigala ibukota bermain di markas besar Stadio Olimpico. Mengingatkan setiap elemen Roma untuk menghadirkan cinta dalam setiap permainannya, bahwa sesungguhnya Roma was born great. And great they have to remain.

Pada akhirnya, pertanyaan hadir sebagai pengingat. Mempertanyakan bukan berarti meragukan cinta. Mempertanyakan justru hadir karena cinta yang dalam. Romanisti akan terus hadir di setiap pertandingan Roma, berdendang “Grazie Roma” ketika menang, dan mempertanyakan performa buruk ketika kalah. Satu hal yang pasti mereka tidak akan pernah berhenti mencintai Roma, karena performa permainan memang layak dipertanyakan, namun kecintaan akan il giallorosso bukan untuk dipertanyakan.