The Economics View of Breaking Up

Standard

In the middle of UAS semester 7, tiba tiba kepikiran untuk menulis sesuatu yang sangat lucu. Since it’s the season of break-ups. Haha. Mari mulai! *biar ga lama karena paper dan UAS masih belom selesai*

Terlepas dari behavioral economist yang masih mencari definisi dari rasional, bolehlah kita gunakan mazhab mazhab ekonomi klasik untuk digunakan dalam menilai break-up. Yang pertama, perusahaan akan memproduksi pada tingkat marginal revenue yang sama dengan marginal cost. While individu akan melakukan konsumsi pada tingkat marginal benefit yang sama dengan marginal cost. So does the relationship. Seorang individu akan mencintai ketika orang yang dicintai memberikan manfaat yang setimpal dengan cost yang ia keluarkan. Untuk lebih membuka mata tentang cost and benefit dalam hal cinta, perlu kiranya kita break down apa aja sih yang termasuk benefit dan yang termasuk biaya.

Benefit adalah berbagai hal yang meningkatkan utilitas yang didapat dari orang yang kita cintai. Senyumnya, elok rupanya, kelembutan suaranya, kedamaian yang dirasa akibat berada di dekatnya, kobaran semangat untuk jadi yang lebih baik, nafsu makan yang lebih tinggi, hingga peningkatan kapabilitas dalam memahami arti cinta adalah benefit dari sebuah relationship. Sementara biaya yang harus ditanggung adalah pengorbanan yang kita keluarkan untuk cinta. Biaya makan bareng, nonton, bensin, pulsa, waktu, amarah dari orang yang anda cintai, sebelnya dia, keselnya dia, bêtenya dia, termasuk di dalamnya adalah opportunity cost dari produktivitas kalian yang hilang karena memutuskan untuk bersama dengannya. Kesannya perhitungan banget dalam mencintai ya? Tapi gue yakin beberapa dari yang baca ini tahu betul keberadaan dua sisi benefit and cost dalam cinta ini.

Ada suatu masa dimana Marginal benefit lebih besar dari marginal cost sehingga kita memutuskan untuk terus mencintai, tapi akan ada suatu masa dimana kita mulai mempertimbangkan untuk berhenti mencintai, sebagaimana P = AVC dalam jangka pendek pada pasar persaingan sempurna. Dalam jangka  pendek, kerugian dari mencintai bisa dihindari dengan meminimalisir cost atau meningkatkan benefit yang dapat dilaksanakan dengan berdiskusi antara 2 insan. Tapi dalam jangka panjang, harus profit, minimal normal profit (halah. Oke ini mulai ngaco.)

Last joke sebelum menutup tulisan ini. Masalah break-up juga bisa dilihat dengan menggunakan asumsi labor market curve. Ada labor market yang upward sloping (Income Effect > Substitution Effect) dan ada yang backward bending (Substitution effect > Income effect). Dan waktu yang kita punya adalah love time vs non-love time (di labor market : work hours vs leisure time). Maka, ketika penambahan income/revenue/life benefit (bukan love benefit) terjadi, dan substituting love effect lebih tinggi daripada loving more effect (ngasal banget namanya), maka teman teman sudah harus bersiaga kalau the time of breaking up is approaching. Hahaha

Wait, untuk cover both sides. Tunggu serial berikutnya yang akan berjudul : Why love isn’t rational. Udah kepikiran isinya, cuma belum punya waktu untuk menulisnya. Semoga setelah UTS bisa dilaksanakan. Wallahu alam bissawwab.

😉

Advertisements

Belajar Memahami (dari) SBY

Standard

Kita sedang memasuki hari hari dimana foto presiden yang tidak berganti selama 10 tahun terakhir akan diturunkan dan diganti foto mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memimpin bangsa ini selama 10 tahun dengan suka duka, pro kontra dan berbagai kebijakan baik yang disyukuri maupun dianggap kontroversial. Love it or not, it’s time to move on and face the new order. Era Joko Widodo.

Refleksi memang biasa dilakukan di akhir sebuah perjalanan. Refleksi sering diakhiri dengan dua hasil yang saling berlawanan, rasa syukur dan penyesalan. Namun mereka yang melakukan refleksi di akhir perjalanan, tanpa disadari seharusnya memiliki sebuah tujuan lain di samping sekedar untuk melihat positif dan negatif dari sebuah perjalanan. Tujuan tersebut tak lain adalah usaha untuk memahami. Upaya untuk mengerti setiap dinamika dalam perjalanan, dan rasionalisasi atas keputusan yang telah dibuat. Keputusan yang seringkali tidak menyenangkan bagi semua orang. You can’t please everyone, but you should.

Setiap pemimpin memiliki karakteristik masing masing. Semuanya dapat didebat satu sama lain. SBY punya slogan “Million friends, zero enemies” . Now, let’s take a poll. Banyak yang setuju, banyak pula yang tidak. Mereka yang tidak setuju adalah yang berpendapat bahwa we can’t please everyone. Sebaliknya, mereka yang setuju berpendapat bahwa we should please everyone. As simple as that. Kita berada pada hakikat bahwa tidak bisa membuat semua orang lain senang, namun berkewajiban untuk baik dan berteman dengan semua orang. Kini tinggal dihadapkan pada dua posisi berdiri, mereka yang berdiri untuk menegakkan realita atau mereka yang berdiri untuk memperjuangkan kewajiban. Pencari kebenaran akan berdebat hingga akhir, namun mereka yang melakukan refleksi memilih untuk memahami situasi dan mengerti dinamika dibanding melakukan justifikasi.

Refleksi 10 tahun ke belakang menghadapkan kita pada hari baik dan hari buruk. Hari dimana Aceh dilanda musibah, dan hari dimana GAM dan Pemerintah Indonesia berdamai (rekonsiliasi). Hari di mana dinding dinding sekolah yang rusak, dan hari di mana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hadir. Hari hari di mana masyarakat mencaci harga sembako, sementara pemerintah memastikan mereka tidak kehilangan pekerjaan sebagaimana melanda masyarakat China dan Amerika Serikat. Tidak setiap saat LeBron James membawa tim-nya unggul, ada waktu dimana ia under-performed. Tidak selamanya Lionel Messi mencetak gol dan mengantar Barcelona ke kasta tertinggi, ada kalanya tendangannya terbentur mistar gawang bahkan ketika Petr Cech telah mati langkah. Satu yang pasti, LeBron James dan Lionel Messi akan menjadi legenda dan catatan sejarah tersendiri. Life is all about ups and downs.

Refleksi hadir untuk evaluasi. Penyesalan hadir untuk tidak mengulangi kesalahan serupa. Memahami presiden yang telah 10 tahun memimpin negeri ini adalah upaya untuk mendewasakan diri. Belajar memahami dinamika yang terjadi dalam 10 tahun terakhir. Belajar memahami SBY, belajar memahami dari SBY. Untuk Indonesia.

Menakar Ketimpangan Lewat Berkurban

Standard

Terkadang ketika kita berbicara mengenai kemiskinan, kita sering lupa mendefinisikan kemiskinan itu sendiri. Kita terlalu asyik menceritakan keadaannya, menyalahkan pemerintah atas kegagalan menanggulanginya atau bahkan mengutuk pihak tertentu sebagai biang keladi dari kemiskinan itu sendiri. Kita lupa mendefinisikan kemiskinan. Bahkan sebagian dari kita tidak bisa mendefinisikan kemiskinan.

Mereka yang telah mengambil mata kuliah ekonomi kemiskinan tahu persis apa itu miskin. Miskin adalah sebuah kondisi yang berada di bawah garis kemiskinan. Maka, definisi orang miskin adalah mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Pertanyaannya, garis kemiskinan mana yang kita anut? Badan Pusat Statistik punya garis kemiskinan tersendiri, World Bank juga punya garisnya sendiri, bahkan jika teman teman ingat di kelas Sistem Ekonomi Pak Sri Edhi Swasono, beliau pernah berujar bahwa bung hatta punya parameter kemiskinan sendiri, bahkan kita pun bisa membuat garis kemiskinan sendiri (diajarin kan pas tugas ekmis? ;))

Badan Pusat Statistik punya garis kemiskinan di bawah 300.000 per bulan (Maret 2013), garis tersebut yang menjelaskan mengapa kemiskinan kita berada angka belasan persen. World bank punya alasan tersendiri mengapa menyediakan garis kemiskinan $1.25/day dan $2/day sebagai garis kemiskinan yang kemudian menjelaskan mengapa angka kemiskinan Indonesia ternyata sangat tinggi (Sila liat sendiri, tujuan tulisan ini bukan meratapi kemiskinannya). Setiap orang pun berhak mengkategorikan diri mereka miskin atau tidak. Ada yang miskin namun merasa tidak miskin, ada pula yang sebenarnya tidak masuk kategori miskin, namun merasa dirinya masih miskin.

Lalu apa hubungannya dengan kurban?

Mereka yang melakukan klaim atas daging kurban (mustahik, dengan catatan non pengkurban/pengurus pemotongan kurban/amil) dapat menjadi parameter sedalam apa kemiskinan di Indonesia. Lihat tren-nya dari tahun ke tahun maka teman teman juga bisa seraya memperhatikan ketimpangan. Sesederhana itu.

Coba tengok masjid masjid di sekitar rumah/kosan kita. Berapa mustahik yang mendapat daging kurban (fakir dan miskin)? Bertambahkan dari tahun ke tahun? Kemudian berdiam dirilah di masjid sejenak setelah pemberian daging kurban, apakah masih ada satu dua orang yang datang untuk memohon daging kurban? Mereka yang berada dalam kategori sejahtera tidak akan datang ke masjid untuk meminta hak-nya sebagai mustahik (fakir miskin). Mereka yang merasa dirinya miskin tidak ragu akan datang meminta hak-nya. Hak yang mereka dapatkan sesuai dengan janji Allah SWT.

Lebih dalam lagi lihatlah pertumbuhan penjualan kambing atau tengoklah jumlah orang yang mulai berkurban. Peningkatan pertumbuhan pengkurban yang diiringi dengan pertumbuhan jumlah mustahik mengindikasikan ada yang tidak beres dalam pengelolaan kemiskinan negeri ini. Hal tersebut memperlihatkan bahwa yang makin sejahtera makin banyak, yang miskin juga makin banyak. Secara kasat mata kita melihat ketimpangan di depan mata kita sendiri.

Yuk sedikit merenung dan lihatlah sekitar kita. Benarkah hidup kita lebih sejahtera? Benarkah ketimpangan kesejahteraan kita makin besar? Atau jangan jangan kita mengalami kemunduran secara finansial dan ruhaniyah karena mereka yang berkurban semakin sedikit dibanding yang memohon untuk menerima daging kurban?
Wallahu alam bissawwab.

Eid Mubarak!

Pengantar Memilih

Standard

Selamat pagi.
Selamat membuka mata di tanggal 9 Juli 2014.
Hari sakral dimana suara kita yang kita sampaikan di dalam bilik suara akan dikumpulkan bersama suara suara warga lainnya untuk diambil sebuah kesimpulan, siapa yang akan diamanahkan untuk memimpin negeri ini.

Rasanya waktu kampanye pilpres tahun ini terasa lebih panjang. Bukan karena  waktu yang dihabiskannya, namun karena suguhan kampanye di dalamnya yang telah mengambil ruang ruang publik kita. Keberpihakan media, kicauan jejaring sosial hingga broadcast message, semua bermuara pada satu rangkaian kalimat yang sama. Pilihlah calon A, karena calon B “insert negative statement here”.

Teman teman,
terima kasih atas usaha persuasifnya berkicau di berbagai media social untuk endorsing kedua calon agar saya (dan undecided voters lain) memilih mereka. Saya pastikan kini saya telah menentukan pilihan, walau bukan karena anda. Tapi saya yakin, pemilu tahun ini adalah arena pendidikan politik terbesar, dan banggalah jika anda berada di dalam bagiannya. J

Teman teman,
Saya dan ibu saya sepakat, tidak ada dari kedua calon yang sebenarnya ingin kami pilih. Bukan dia yang meninggalkan catatan buruk di masa lalu, bukan juga dia yang terlalu cepat memindahkan amanahnya. Tapi saya sadar betul, sebagaimana cinta, hidup memang tidak sesempurna yang kita inginkan. Pada akhirnya kita tidak pernah dihadapkan pada pilihan yang sempurna dan yang tidak sempurna. Kita akan selalu dihadapkan pada ketidak sempurnaan, dan memilih mana yang paling memberikan manfaat bagi diri kita. Maka bagi yang berencana ingin golput, sederhanakanlah pikiran kalian, ini bukan memilih siapa yang pantas, namun siapa yang lebih baik untuk tidak diberikan amanah dalam memimpin negeri ini.

Dengan paradigma tersebut memilih akan terasa lebih mudah. Lihat figurnya, buka visi-misi yang bertebaran dengan berbagai infografis di dalamnya, berbagai figur di belakangnya, atau sekedar duduklah sebentar dan ingat bagaimana mereka berbicara. Sekali lagi ditegaskan bahwa memang diantara keduanya tidak ada yang sempurna. Dalam berbicara saja, tidak ada yang selantang bung Karno, tidak juga minimal menggunakan diksi sebaik SBY. Cukup pilihlah yang anda lebih rela untuk diberikan tampuk kekuasaan negeri ini.

Teman teman,
Selamat memilih dan mengevaluasi negeri ini.
Sempatkan berdoa sejenak agar Allah SWT memberikan takdir terbaik bagi bangsa ini.
Dan ingatlah bahwasanya, amanah tidak akan memilih orang yang salah.

Perfection

Standard

Mengutip sebuah kutipan dari Anies Baswedan,
“Kita punya banyak insan yang memiliki global competence. Kita punya banyak insan yang memiliki grassroot understanding. Tapi kita sedikit punya insan yang memiliki keduanya.”

Maka dalam suasana Ramadhan, hal ini sama seperti,
“Kita mempunyai banyak insan yang paham betul urusan dunia, kita juga mempunya banyak insan yang mengerti benar masalah akhirat. Yang kita kurang adalah mereka yang memiliki keduanya”

Mengembalikan Makna Ramadhan

Standard

Waktu berjalan cepat. Kamu yang dulu masih menikmati indahnya dunia kampus, sekarang ada di ujung semester 6, dalam hitungan hari akan menjadi mahasiswa tingkat akhir.
Waktu berjalan cepat. Kamu yang dulu bergegas bangun sahur ketika dini hari, mungkin sudah lupa rasanya shalat subuh di awal waktu.
Waktu berjalan cepat. Saking cepatnya, membuat kita lupa bahwa hari hari baik kita di Ramadhan tahun lalu, berubah menjadi hari hari biasa yang dibawa arus kehidupan.
Jangan jangan, kita menjadi orang celaka yang hari ini jauh lebih buruk dari hari kemarin.

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Tuhanmu memberikan kamu kesempatan untuk kembali ke dalam sebuah bulan penuh berkah. Sebuah bulan yang di dalamnya berlimpah pahala. Sebuah bulan yang di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Tuhanmu menyadarkan kamu untuk membaca tulisan ini (untuk pembaca) atau bahkan menulis ini (untuk penulis) semata mata untuk jadi pribadi yang lebih baik.

Tidak ada yang lebih miris dibanding saling berburuk sangka kepada sesama Muslim di bulan Ramadhan.
Tidak ada yang lebih miris dibanding saling mempermasalahkan hal hal yang tidak substansial antar sesama Muslim di bulan Ramadhan.
Bukankah sesama Muslim adalah saudara?
Bukankah sakitnya seorang Muslim adalah sakit bagi Muslim yang lainnya?
dan bukankah nikmat seorang Muslim adalah nikmat bagi Muslim yang lainnya?

Semoga Ramadhan tidak lagi diawali dengan diskusi penting tidaknya menutup jendela rumah makan di bulan Ramadhan.
Semoga Ramadhan tidak lagi diawali dengan perdebatan benar salahnya penggrebekan FPI di warung remang-remang.
Semoga Ramadhan tidak lagi diawali dengan perdebatan mana yang benar dalam memutuskan hari dimulainya Ramadhan.
Dan semoga di Ramadhan tahun ini, keberpihakan kita pada salah satu pasangan calon presiden tidak menodai persaudaraan kita sesama Muslim. 
Karena sesungguhnya bulan yang penuh berkah ini terlalu suci untuk dimulai dengan memperlihatkan kebencian kepada sesama Muslim.

Marhaban yaa Ramadhan.
Allah menciptakan posisi telinga yang dekat dengan posisi mulut semata mata agar apa yang disampaikan oleh seseorang, lebih dahulu didengar dan dipertanggung jawabkan oleh orang itu sendiri.
Mohon maaf lahir dan batin.

Suara Aku yang Bermimpi

Standard

Mereka bilang ini tahunnya kita
Tapi tak kutemui keinginanku disana
Mereka bilang ini pesta kita
Yang kulihat hanya kebanggaan kaumnya saja

Memang hidup tak mencari yang terbaik
Tapi tak ingin aku dipimpin yang tak laik
Memang hidup tak mencari sempurna
Tapi jujur aku merindukan purnama

 Berdiri aku di sisi kiri
Ada di tempat mereka yang tenar dalam politik
Katanya percaya akan perubahan yang baru
Nyatanya tak selesaikan hutang yang lama

Berdiri aku di sisi kanan
Yang riuh penuh kemerlap nyata dan maya
Katanya mimpiku tak lagi hanya sekedar asa
Nyatanya ia tak juga selesaikan mimpiku sebelumnya

Kudengar hiruk pikuk di sisi kiri
Suara lantang buat telinga terpekik
Perlahan kutajamkan hingar tersebut
Serupa asap di dalam kabut
Tak ada yang bisa diraih

Kudengar hiruk pikuk di sisi kanan
Suara lantang malam dan siang
Perlahan kutajamkan hingar tersebut
Serupa air tumpah dari gelasnya
Terlalu penuh untuk diisi

Aku kira tahun ini aku dapat bermimpi
Aku kira tahun ini aku bisa haturkan asa
Nyatanya, dua sisi yang penuh luka
Tak selesaikan hutang, menatap dosa

Andai peri mimpiku tak datang kembali
Aku rela untuk tetap berdiri
Hidup bukan untuk terus bermimpi
Namun untuk perbaiki hari

Manusia adalah pemikul benci
Yang tak kan hilang ditelan caci
Bangsa ini bosan dicaci
Bangsa ini harus segera berlari

Tak ada guna marah dengan takdir
Kursi pemimpin harus segara ditempati
Satu suara bukan untuk yang paling dicaci
Satu suara untuk yang dapat perbaiki hari